Berhaji tak hanya sekadar menunaikan rukun Islam kelima. Namun jauh dari
itu, di kalangan masyarakat, terkhusus di Bone gelar haji menjadi simbol
terangkatnya strata sosial di tengah masyarakat.
Rabu 5 Oktober kemarin, awal jemaah haji kloter pertama Bone menginjakkan
kaki di Bumi Arung Palakka, setelah 40 hari lebih melaksanakan ibadah haji di
di tanah suci Mekkah. Sebanyak 234 jamaah haji tiba di Islamic Centre Watampone
sekira pukul 12.00 Wita. Sementara kloter kedua sebanyak 350 jemaah,
dijadwalkan tiba pada 13 Oktober mendatang.
Keluarga jemaah haji bahkan sejak Selasa malam, 4 Oktober sekira Pukul 23.00
Wita , sudah berada di Islamic Centre tempat penjemputan jemaah haji. Mereka
terlihat antusias menunggu kedatangan keluarga tercinta. Sesekali, keluarga
jemaah nampak riuh saat mobil bus berjalan pelan di depan gedung Islamic
centre, yang nyatanya bus tersebut milik penjemput jemaah haji.
Tepat pukul 12.00 Wita, iring-iringan bus pengangkut jemaah haji tiba di
Islamic Centre. Suasana kian riuh, saat satu-persatu jemaah haji turun dari
bus. Suasana haru jelas terlihat saat para jemaah haji bertemu dengan
kerabatnya.
Terkhusus jamaah haji perempuan, sebagian besar terlihat mengenakan pakaian
kebesaran mereka (Haji Lompo dalam istilah bugis), lengkap dengan perhiasan
emas.
Salah seorang keluarga jemaah haji, Rusli mengaku, sudah menunggu kedatangan
ibunya di Islamic Centre sejak pukul 09.00 Wita.“Saya bersama keluarga dari
Desa Kampuno, sengaja menyewa mobil untuk menjemput ibu saya Aji Marwa. Saya di
sini dari jam 09.00 Wita,” ungkapnya kepada penulis, kemarin.
Sementara salah seorang jemaah haji, Hj Mastati membeberkan sedikit
pengalamannya saat berada di tanah suci.“Di sana saya khusyuk beribadah. Insya
Allah berkah nak,” ujarnya sembari menceritakan pengalamannya pertama kali naik
pesawat. “Nappakku makkappala luttu (Pertama kali saya naik pesawat),” ujarnya
lagi dengan logat bugis.
Jika ditelisik, ada kesan mendalam bahwa masyarakat di Bone dan Sulsel pada
umumnya, lebih kuat menekankan aspek sosial budaya haji. Stratafikasi sosial
masyarakat haji di daerah ini lebih dihormati ketimbang masyarakat yang belum
haji. Ini bisa kita lihat, daftar pengiring pengantin dalam upacara adat
perkawinan dalam etnik Bugis-Makassar diprioritaskan bagi mereka yang sudah
haji. Pak Haji atau bu Haji bisa duduk dalam baki atau meja yang sama dengan
Pak Camat atau Pak Kades. Sebaliknya yang belum haji harus berpikir dua kali.
Pakaian haji mereka (pakaian lompo) dianggap pakaian sebagai pakaian adat. Respek
dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Pak Haji atau Ibu Haji sangat
tinggi.
Prestise lain ibadah haji bisa mengangkat martabat lokal seseorang, misalnya
seorang pemuda yang sudah haji bisa melamar perempuan yang derajatnya lebih
tinggi. Bahkan Pak Haji atau Ibu Haji, diproritaskan duduk di saf pertama
masjid.
Haji tidak semata-mata menjadi fenomena spiritual keagamaan tetapi juga menjadi fenomena sosial-budaya.
Dalam masyarakat yang berlapis-lapis, kecenderu-ngan kelompok masyarakat
untuk naik ke lapis atas merupakan suatu keniscayaan. Namun yang perlu
dipikirkan, prestise yang tidak berbanding lurus dengan prestasi seringkali
muncul sebagai suatu fenomena di dalam masyarakat kita. Sebetulnya banyak orang
belum masuk kategori wajib haji dilihat dari sudut pandang ilmu fikih tetapi
karena gensi, sehingga ada yang terpaksa harus menjual sawah dan lahan
garapannya dan sepulangnya dari tanah suci bersedia menjadi petani penggarap
atau penyewa lahan, yang penting sudah bergelar haji.(sulsel.fajar.co.id/oleh: ASKAR SYAM, Watampone)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar