Jumat, 25 Oktober 2013

Ketika Dam Akan Dikelola Bersama IDB

Add to Google Reader or Homepage
Ada gagasan menarik dalam penyelenggaraan haji tahun ini, mulai dijajakinya kerjasama pengelolaan dam (denda) jamaah haji Indonesia dengan Islamic Development Bank (IDB).

Potensi pembayaran Dam bagi jamaah haji Indonesia sendiri sangat besar, karena hampir seluruh jamaah haji mengambil haji tamattu, sehingga wajib membayar dam. Dari 168 ribu jamaah haji jika dikalikan dengan harga kambing saat ini sekira Rp 2 juta, maka potensi dana mencapai Rp 336 milyar. Jelas ini bukan angka yang kecil.

 Al Baqarah surah 2 ayat 106 mengatakan,"maka barangsiapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan-bulan haji), (wajiblah ia menyembelih binatang hadyu) yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang hadyu atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) bila kamu telah pulang kembali."

 Lantas persolan yang bakal muncul, apakah biaya dam tersebut sudah termasuk dalam BPIH 2014? atau akan kembali diambil dari para jamaah haji ketika hendak berangkat seperti yang banyak dilakukan oleh KBIH mengutip biaya dam dari living cost jamaah haji. 

Sebelum keputusan ini diambil, sebaiknya Kemenag mengadakan dulu pembicaraan atau dibuatlah muzakarah yang melibatkan MUI, IPHI, Ormas Islam, para kiai sepuh, termasuk politisi DPR RI dan DPD, tentunya yang terkait masalah syar'i dan manfaat yang akan didapat umat Islam Indonesia. 

Jika dikelola IDB, jelas sangat menguntungkan jamaah haji, karena peruntukan dan manfaatnya sangat jelas bagi umat, serta akuntabiltas cukup terjaga. Selama ini, percaloan dam yang dilakukan oleh mukimin kita di Arab Saudi bekerjasama dengan para pengurus KBIH, banyak merugikan jamaah haji, bahkan tak sedikit yang memenuhi unsur penipuan. 

Kita berharap pengelolaan Dam bekerjasama dengan IDB, lebih memudahkan jamaah haji dan manfaatnya dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tak mampu dan banyak tersebar di nusantara ini.

Distribusi daging dam tersebut, kita harapkan dapat dinikmati juga oleh saudara-saudara kita yang fakir miskin.Wallahu a’lam bish-shawab.

Rabu, 23 Oktober 2013

Catatan Haji 2013 (1)

Add to Google Reader or Homepage 

Penyelenggaraan ibadah haji 2013 belumlah usai, proses pemulangan jamaah haji dan proses kegiatan jamaah haji gelombang dua melakukan arbain di Madinah sedang berlangsung. Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini baru akan berakhir 19 November 2013, saat jamaah telah kembali ke Tanah Air.

 Apresiasi positif terhadap penyelenggaraan ibadah haji 2013 telah bermunculan, baik dari Mantan Wapres Jusuf Kalla, Ketua DPR Marzuki Alie dan Dubes Arab Saudi di Indonesia Musthafa Ibrahim Al-Mubarak. 

Namun bukan berarti penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, sepi dari masalah. Upaya keras Dirjen PHU Anggito Abimanyu dan jajarannya untuk memberikan pelayan haji yang semakin baik, memang harus terus diupayakan dan diperbaiki. 

Pengurangan 20% kuota jamaah haji Indonesia oleh pemerintah Arab Saudi, yang disampaikan pada bulan Juni 2013, jelas sangat mengagetkan para calhaj, terkesan mendadak seakan pemerintah Saudi tak punya perencanaan cermat terhadap penyelenggaraan haji, yang tentunya banyak menyulitkan negara-negara pengirim jamaah haji. 

Pengurangan kuota haji 20% ini. alasan pemerintah Saudi karena terjadi keterlambatan dalam penyelesaian rehabilitasi Masjidil Haram dan demi keselamatan jamaah haji itu sendiri. Mustinya kebijakan ini, jangan dikeluarkan secara mendadak. Sebagai negera terbesar pengirim jamaah haji, harusnya Indonesia memiliki nilai tawar.

Catatan haji lainya, kurangnya jumlah petugas haji kita yang di tempatkan di seputar Masjidil Haram. Padahal keberadaan petugas ini, sangat penting untuk memandukan para jamaah sekaligus melayani mereka. Bahkan keberadaan “sektor khusus” yang biasanya tak jauh dari Masjidil Haram, hingga detik-detik terakhir jamaah telah masuk ke kota Mekkah, sektor ini belum memiliki kantor. 

Pelarangan pelayanan kesehatan oleh masing-masing negara pada saat Armina, jelas menyulitkan jamaah haji itu sendiri. Kasus terbatasnya ambulan di Arafah, larangan terhadap penggunaan ambulan untuk safari wukuf, harus dikoreksi secara tegas ke pemerintah Arab Saudi.

Pengadaan kantong urine bagi jamaah haji cukup baik, tapi jumlahnya yang hanya 10 ribu buah, jelas tak mencukupi. Pengadaan sarana ini harusnya merupakan paket yang bisa diterima semua jamaah, ditambah barang-barang lain yang jadi kebutuhan jamaah haji selama Armina. 

Melayani 168 ribu-an jamaah haji, memang bukan persoalan yang mudah, tapi niat dan ikhtiar untuk memberikan pelayanan yang semakin baik kepada jamaah haji merupakan keharusan. (foto: Tempo)

Selasa, 22 Oktober 2013

Ibadah Haji Kaya Moment Foto Syiar

Add to Google Reader or Homepage
Penyelenggaraan Ibadah haji, sejak jemaah masuk asrama haji, sampai saat jamaah berada di Arab Saudi, Jeddah, Madinah, dan Mekkah, termasuk saat di Arafah, Muzdhalifah dan Mina serta jemaah kembali ke tanah air menyajikan puluhan ribu bahkan ratusan ribu moment foto news maupun foto art yang kaya dengan human interes, syiar dan sangat menggugah. 

Beberapa fotografer LKBN Antara, yang pernah tergabung dalam tim liputan haji (MCH) seperi Zarkoni Maksum, Maha Eka Swasta, Saptono Soemardjo dan Prasetyo Utomo telah melahirkan buku fotografi yang indah dan menarik tentang ibadah haji.Tiga Buku fotografi itu berjudul "Makkah Photography Diary," “Makkah Final Destination” dan “The Other Side of Makkah”. 

Para fotografer yang melaksanakan ibadah haji sambil bergiat pada profesinya, melahirkan karya-karya foto berdimensi keindahan sekaligus "dakwah/syiar" visual, yang menyentuh hati. Dimensi fotografi ibadah haji ini juga disadari oleh mass media manca negara, seperti Reuter, AFP, AP, BBC, CNN,dll, mereka secara rutin setiap musim haji selalu mengirimkan fotografer mereka ke Arab Saudi, yang sebagian besar fotografer tersebut adalah keturunan jazirah Arab dan seorang muslim. 

Belum lagi media lokal Arab Saudi yang berbahasa asing, seperti Arab News, Saudi Gazette, Al Arabiya baik dalam media cetak maupun online mereka, selalu tersaji foto-foto menarik tentang ibadah haji. 

Dalam Dua tahun terakhir, saya tak lihat lagi, foto-foto apik penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di Arab Saudi tersaji di media masa tanah air. Yang banyak tersaji di media selama musim haji adalah foto seremonial, foto para pejabat dan foto pristiwa. Kita kehilangan karya foto berdimensi "dakwah" dan keindahan ibadah haji. 

Rupanya dua tahun terakhir, Kemenag tak melibatkan fotografer dalam liputan haji. Saat ini, terasa betul terjadi kekosongan foto "dakwah/syiar" tentang ibadah haji yang indah dan menggugah. (foto: AFP)

Kamis, 16 Mei 2013

Kemenkes Imbau Jamaah Umrah Waspada nCoV

Add to Google Reader or Homepage


Merebaknya kasus novel Corona Virus (nCoV) di Arab Saudi harus mendapat perhatian calon jamaah umrah.Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, hingga 10 Mei 2013 sudah ditemukan 33 kasus nCoV.

"Ada di Arab Saudi, Jordan, Qatar,UEA, UK dan Prancis," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima ROL, Senin (13/5).

Tjandra mengatakan, nCov sebagaian besar mnginfeksi laki-laki dengan rentang usia 24-94 tahun. Angka kematian dalam virus itu 54,54 persen lebih tinggi dari virus H7N9. "Sudah 18 orang meninggal," katanya.

Kemenkes dikatakan Tjandra sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agama menyangkut kesehatan calon jamaah umrah. Tjandra menyarankan calon jamaah umrah harus menjaga kesehatan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan cuci tangan pakai sabun (CTPS).  "Jika sakit langsung berobat," ungkapnya.

Selain itu calon jamaah umroh juga harus mengikuti informasi yang benar tentang penyakit nCoV. Kemenkes secara rutin berkomunikasi dengan World Health Organization (WHO) terkait perkembangan penyakit yang mirip dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) ini.(Rep)

Selasa, 14 Mei 2013

Dirjen PHU Anggito: Pejabat dan Masyarakat Dilarang Minta Kuota Haji

Add to Google Reader or Homepage
Kementerian Agama RI menegaskan tidak akan melayani permohonan sisa kuota haji. Hal ini terkait dengan keputusan Menteri Agama RI untuk menerbitkan PMA (Peraturan Menteri Agama) no 34 tahun 2013 tentang pengisian sisa kuota haji nasional.

''Dengan PMA tersebut akan menghilangkan semua keistimewaan yang dimiliki pejabat Kementerian Agama pusat, termasuk menteri dan dirjen, dalam membagi sisa kuota haji,'' ujar Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag, Anggito Abimanyu, Selasa (14/5).

Selanjutnya, menurut Anggito, seluruh permintaan untuk mendapatkan porsi haji lebih cepat dari waktu yang seharusnya tidak akan dilayani kecuali lansia berusia 83 tahun ke atas.

Berdasarkan aturan tersebut, pengisian sisa kuota haji dilakukan berdasarkan usia lansia dan pendamping, kekurangan petugas, dan penambahan kuota provinsi. Penambahan kuota provinsi dilakukan dengan memerhatikan masa tunggu jamaah, pertimbangan keadilan, serta kekhususan daerah dengan prioritas untuk mereka yang belum pernah menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, PMA ini memberikan kewenangan kepada Kanwil Kemenag Provinsi untuk melakukan sisa kuota nasional.

Anggito pun mengimbau agar masyarakat, ormas, dan pemerintahan tidak menyampaikan usulan pengajuan porsi haji bagi mereka yang belum berhak dan belum waktunya untuk berangkat. ''Pengisian sisa kuota nasional haji akan dilakukan berdasarkan nomor urut pendaftaran haji,'' ujarnya.(rep)