Sabtu, 29 Agustus 2015

Daripada Umrah Berkali-kali, Lebih Baik Atasi Kemiskinan

Add to Google Reader or Homepage

Imam Besar MAsjid Istiqlal, Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub mengatakan, anggapan yang muncul tentang melakukan ibadah umrah di saat bulan suci Ramadahan sama pahalanya dengan ibadah haji, merupakan anggapan yang salah dan menyesatkan. 

Ali Yakub mengingatkan para agen perjalanan haji dan umrah tidak memanfaatkan anggapan yang salah tersebut, menjadi sebuah promosi untuk mencari keuntungan.

 Ia menuturkan anggapan tersebut, secara tidak langsung membuat banyak umat Muslim di Indonesia, khususnya mereka yang berpenghasilan tinggi dan sebenarnya sudah pernah melakukan umrah, melakukan ibadah umrah secara berulang-ulang kali. ''Tentu saja, hal tersebut tidak tepat karena Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah melakukan ibadah umrah secara berulang-ulang kali,'' ungkap Ali Mustafa Yakub, di Jakarta, Jumat (21/8). 

Menurut pengasuh Pesantren Hadis Darussunnah, ibadah haji atau umrah merupakan jenis ibadah multi dimensi, yang tidak melulu soal amaliyah saja melainkan juga harus dapat mengubah perilaku dari orang yang melakukannya.

Artinya, selain meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah dari orang yang melakukannya, ibadah haji atau umrh tidak boleh membuat orang yang menjalankannya menjadi tak peduli ibadah sosial. "Jangan cuma amaliyah tapi tidak perduli sosial," kata Ali. 

Ali mengungkapkan, tahun ini setidaknya delapan juta orang tercatat melakukan ibadah umrah, yang banyak diantara mereka sebenarnya sudah pernah melakukan ibadah umrah atau melakukannya untuk kesekian kali. 

Dibandingkan menjalani ibadah umrah secara berulang-ulang, yang tak pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, lebih baik jika umat Muslim menyumbangkan rezekinya untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang ada. 

Ali menyebutkan salah satu contoh permasalahan sosial yang wajib mendapatkan bantuan, yaitu soal tingginya angka kemiskinan di Indonesia. 

Ali menerangkan, sudah beberapa kali menemukan dan membantu orang-orang terlantar di sekitar Masjid , mulai dari yang terusir dari orang yang berpenyakit sampai orang yang beragama lain, yang kelaparan dan terlantar. 

Ia menyarankan umat Muslim yang sudah pernah melaksanakan umrah, untuk lebih memilih menyumbangkan rezekinya kepada sosial dibanding menjalankan ibadah umrah secara berulang. "Akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengentaskan kemiskinan,'' ujar Ali Yakub mengingatkan. (republika)

Jumat, 28 Agustus 2015

Lebih Mudah Menyiapkan Riyal dari Tanah Air

Add to Google Reader or Homepage
Selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, para jamaah membutuhkan uang riyal Arab Saudi (SAR) untuk berbagai keperluan. Misalnya, naik kendaraan umum, membeli makanan dan minuman, membeli souvenir di tempat-tempat ziarah, membeli sejumlah kebutuhan pribadi, berbelanja oleh-oleh, dan bersedekah. 

Banyak jamaah haji yang baru menukarkan uang riyal sesaat setelah tiba di Tanah Suci. Hal itu sering merepotkan. Sebab, mereka harus antre dengan jamaah lain dari berbagai negara. Di samping itu, nilai tukar rupiah terhadap riyal di Tanah Suci umumnya lebih rendah, sehingga jamaah sebetulnya rugi kurs. 

Terkait hal tersebut, Bank BRI Syariah memberikan solusi kepada para calon jamaah haji dengan cara menyediakan riyal. Selain nilai tukarnya yang lebih kompetitif, BRISyariah juga menyediakan denominasi riyal tersebut mulai dari 5, 10, 50 hingga 100. BRISyariah menjual paket riyal (Saudi Arabia Riyal/SAR) di beberapa kantor cabang BRISyariah, kerja sama dengan perusahaan-perusahaan travel haji dan di beberapa embarkasi haji. 

Untuk paket SAR tersebut, BRISyariah menjualnya dalam paket Rp 1 juta dan Rp 2 juta. Untuk paket Rp 1 juta, nasabah akan memperoleh satu lembar berdenominasi SAR 100, dua lembar SAR 50, tiga lembar SAR 10, dan empat lembar SAR 5. Untuk paket Rp 2 juta, lembar denominasi dikalikan dua. 

Dengan membeli paket SAR di BRISyariah, para calon jamaah haji insya Allah bisa lebih tenang. Sebab, mereka sudah memiliki riyal sejak masih di Tanah Air. Mereka juga tidak dirugikan oleh selisih kurs kalau menukar riyal di Tanah Suci.  ( republika/foto: arabnews)

Rabu, 26 Agustus 2015

Ooy Rukoyah, Asal Sukabumi, Wafat Usai Shalat di Nabawi

Seorang jemaah haji perempuan asal Sukabumi, Ooy Rukoyah (55 tahun) meninggal dunia, usai menunaikan shalat sunnah qobliyah Subuh, di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. 

Data yang diterima Media Center Haji (MCH) Makkah, Arab Saudi, Rabu, menyebutkan Ooy yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) JKS 7 meninggal dunia akibat serangan jantung. 

Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Madinah Darmawali Handoko mengatakan, perempuan yang berasal dari Kampung Cicadas Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu, meninggal dunia pada pukul 04.00 waktu Arab Saudi (WAS).

"Soal penyebab pasti kematiaannya masih kita selusuri, tapi hasil cek medis awal akibat serangan jantung," kata Darmawali di Madinah, Arab Saudi, Rabu. 

Dalam sertifikat kematian resmi yang dikeluarkan Pemerintah Arab Saudi disebutkan penyebab serangan jantung yang berakibat pada wafatnya Ooy yang datang ke Madinah pada Senin (25/8) itu adalah penyakit kolesterol tinggi yang telah diderita Ooy sejak dari Tanah Air. 

Ooy menjadi anggota jemaah haji Indonesia ketiga yang meninggal di Madinah. Sebelumnya, seorang calon haji asal Pacitan, Jawa Timur bernama Suparti binti Kasan Somin Kromoharjo (70) meninggal di Hotel Mawaddah Shofwat Madinah. 

Kemudian calon haji kedua yang sudah wafat bernama Chamdanah Kalam Hasyim binti Kalam (55) asal Surabaya, Jawa Timur. Chamdanah meninggal di dalam pesawat sebelum tiba di Bandara AMAA, Selasa (25/8) . (rep/ant/mch/foto: tripadvisor.com)

Saudi Siap Layani Kesehatan Jemaah Haji

Add to Google Reader or Homepage
Direktorat Umum Kementerian Kesehatan Arab Saudi di Madinah, Senin meluncurkan rencana terpadu pelayanan kesehatan haji tahun ini, agar jemaah haji melakukan ibadah mereka dalam lingkungan yang sehat dan bebas infeksi. 

"Kami telah membuat rencana pelayanan kesehatan terpadu untuk jemaah haji guna mencapai tingkat terbaik melalui pengobatan, pencegahan dan program rawat jalan,” hal itu diungkapkan juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Khalid Al-Mirghalani kepada Arab News, Senin. 

Khalid menambahkan, pengaturan serupa juga telah dibuat di Makkah, Mina, Arafat, dan Muzdalifa . Vaksinasi meningitis diwajibkan untuk para pekerja dan jemaah haji. "Kami juga memiliki persediaan yang cukup untuk obat flu bagi jemaah haji yang membutuhkannya," ucapnya. 

"Kami siap memberikan pelayanan kesehatan preventif dan kuratif bagi jemaah haji yang masuk melalui darat, udara dan laut. Kami juga membuat pos-pos layanan kesehatan di jalan-jalan utama strategis untuk dan dari Madinah, serta di masjid Nabawi,” ujarnya. 

Tujuh rumah sakit dipersiapkan dengan daya tampung 999 tempat tidur, termasuk 135 tempat untuk perawatan intensif dan keadaan darurat dalam melayani jemaah haji. Rumah sakit ini didukung oleh 18 pusat kesehatan masyarakat, termasuk di masjidil Haram maupun di masjid Nabawi. 

Selain itu, kata Khalid, disiapkan juga tiga pusat surveilans epidemiologi di Bandara Madinah dan Yanbu serta di pelabuhan Yanbu. (arabnews/foto: skyscrapercity.com)

Selasa, 25 Agustus 2015

Seorang Jemaah Wafat di Pesawat

Add to Google Reader or Homepage
 Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Seorang jamaah haji asal Surabaya meninggal dunia di dalam pesawat sebelum tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA), Selasa (25/8) pagi. 

Jamaah yag wafat tersebut bernama Chamdanah Kalam Hasyim binti Kalam yang lahir di Surabaya pada 30 Agustus 1959 (55 tahun). 

Seperti dilaporkan wartawan MCH, penanggung jawab medis Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Bandara Jeddah-Madinah dr Royani Nurrohman mengatakan, almarhumah terkena serangan jantung.

 “Menurut keterangan awal dari dokter kloter, jamaah ini terkena serangan jantung. COD (certificate of death/surat keterangan kematian) masih sedang dalam proses pembuatan sekarang,” kata Royani kepada MCH. 

Chamdanah tergabung dalam Kloter 5 Surabaya (SUB 5). Almarhumah menjadi jamaah haji asal Tanah Air kedua yang meninggal pada musim haji tahun ini. Pada Senin (23/8), seorang jamaah haji asal Pacitan, Jawa Timur bernama Suparti binti Kasan Somin Kromoharjo meninggal di Hotel Mawaddah Shofwat Madinah, Arab Saudi. 

Suparti meninggal pada pukul 13.50 WAS saat ingin bersiap menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan arbain. Suparti tergabung dalam kelompok terbang Surabaya 4 (SUB 4) dengan nomor penerbangan SV 5707. (Republika/foto: planespotters.net)

Sabtu, 22 Agustus 2015

Visa Calon Haji Telat, Menag Minta Maaf

Add to Google Reader or Homepage


Persoalan seputar keberangkatan calon jemaah haji (CJH) kembali terjadi menyusul keterlambatan penyelesaian visa. 

Penyebabnya, ada perubahan pengurusan visa dengan diberlakukannya e-haj bagi semua negara. Perubahan tersebut membuat pengurusan visa menjadi lebih lama. 

”Kami minta maaf dan merasa empati terhadap jemaah dengan adanya keterlambatan ini,” ujar Menteri Agama (Menang) Lukman Hakim Saifuddin di sela pemberangkatan kloter I  di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, kemarin (21/8). 

Lukman mengatakan bahwa jemaah yang tertunda keberangkatannya tidak berarti tidak memperoleh visa. Mereka pasti diberangkatkan pada kloter berikutnya.

Pemerintah terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk penyelesaian visa yang tersisa. ”Kami harap dalam hitungan hari selesai,” ujarnya. 

Lukman mengungkapkan bahwa penyelesaian visa merupakan kewenangan pemerintah Arab Saudi. Sejumlah jemaah haji kloter pertama tidak bisa berangkat karena visa mereka belum selesai. Penyebabkan, ada perubahan pengurusan visa dengan penerapan sistem e-haj yang diberlakukan untuk semua negara. 

”Dengan sistem e-haj, data visa setiap jemaah haji harus detail, seperti penerbangan dan pemondokan. Ini sedikit menyulitkan, tapi tahun-tahun depan lebih mudah,” paparnya. 

Secara khusus, Lukman meminta calhaj yang berangkat dapat menjaga kesehatan setiba di Tanah Suci sehingga bisa menjalankan ibadah dengan baik dan maksimal. 

Dia mengingatkan, rangkaian ibadah haji berlangsung cukup lama dan akan menguras stamina. 

Lukman meminta calhaj tidak memforsir atau memaksa diri dalam melakukan amalan-amalan utama saat berhaji, apalagi melakukan aktivitas yang merugikan kesehatan. 

”Apa pun amalan haji adalah ibadah. Jangan pernah lupa dengan niat awal kita pergi ke Tanah Suci karena kita akan beribadah. Puncaknya wukuf,” ujarnya.(sumatera ekspres)