Senin, 26 September 2016

DPR Tagih Janji Kuota Haji Raja Salman ke Pemerintah

Presiden Joko Widodo pernah dijanjikan oleh Raja Salman dari Arab Saudi, untuk penambahan kuota haji dari Indonesia sebesar 10.000 orang. Sayangnya, janji Raja Salman itu belum direalisasikan secara resmi oleh Kerajaan itu.

Hal itu dijelaskan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam rapat konsultasi dengan Pimpinan DPR, Senin (26/9).

Dijelaskan oleh Lukman Hakim, kuota haji untuk Indonesia yang besarnya 168.000 sesuai nota kesepahaman (MoU), memang bisa ditambah‎ asalkan ada persetujuan dari Raja Arab Saudi.

Namun, titah raja untuk menambah kuota itu harus dikeluarkan secara resmi oleh Diwan Malaky, yang lalu akan ditujukan kepada Kementerian Haji Arab Saudi. Kementerian itu yang kemudian akan menindaklanjutinya dengan penyesuaian kuota untuk Indonesia.

"Betul Raja Salman janji kepada Presiden Jokowi menyatakan Pemerintah Arab Saudi akan penuhi permintaan penambahan kuota 10.000. Namun apa yang disampaikan Raja Salman ke Presiden itu hanya lisan," kata Lukman Hakim.

Artinya, lanjut dia, janji lisan Raja Salman itu belum sampai ke Diwan Malaky.

Kementerian Agama RI sendiri berusaha segera mendapatkan kejelasan soal janji Raja Salman. Penelusuran dilakukan, namun sampai pemberangkatan, tak kunjung ada dokumen soal penambahan kuota itu.

"Makanya kami tak menindaklajuti sehingga kuota kita masih tak berubah," kata Menteri Agama.

"Ke depan, kalau ada komitmen seperti itu, harusnya sih segera ditindaklanjuti aparat setempat terkait."

Sebelumnya, diketahui bahwa pada pertengahan 2015, Presiden Jokowi melawat ke Arab Saudi dan bertemu Raja Salman. Saat itu, Jokowi mendapat janji kuota jemaah haji Indonesia akan ditambah sebanyak 10.000 orang.

Janji ini diberikan berkaitan telah selesainya proyek renovasi dan perluasan komplek Masjidil Haram. Selama renovasi, Kerajaan Arab Saudi menetapkan pemotongan kuota jemaah haji pada seluruh negara, termasuk Indonesia sebesar 20 persen sejak 2013.

Kuota haji Indonesia yang awalnya sebesar 211.000 jemaah berkurang menjadi 168.800 jemaah. Hal ini berdampak pada panjangnya masa tunggu antrian calon jemaah haji mencapai lebih dari 25 tahun.(beritasatu.com)

Jemaah Haji Kotabaru Ini Dicurigai Tertular Virus Mers Cov

Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotabaru langsung bergerak cepat. Standart operasional prosedur (SOP) penanganan antisipasi pun dilakukan, menyusul adanya salah satu dari 131 jemaah haji yang dicurigai (suspek) terkena virus Mers Cov.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotabaru drg Cipta Waspada, mengatakan, jemaah haji dicurigai terkena virus mers cov, bernama Asiah (59), warga Desa Langadai, RT 03/02, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru.

Menurut Cipta, adanya kecurigaan pasien terkena virus yang berasal dari Timur Tengah itu, berdasarkan hasil diagnosa sementara dari dokter spesialis penyakit dalam rumah sakit umum daerah (RSUD) Kotabaru yang sempat menangani pasien.

"Awalnya saat tiba di Kotabaru tanggal 23 September setelah berangkat dari Arab Saudi, pasien (Asiah) dirujuk ke RSUD karena kondisinya lemah. Keluhan sesak nafas dan nyeri dada. Karena dicurigai mers cov, pasien sudah dirujuk ke rumag sakit ulin Banjarmasin," kata Cipta kepada BPost Online, Senin (26/9/2016).

Selain penanganan pasien, pihaknya juga melakukan antisipasi kepada jemaah haji lainnya. Selain meminta agar melakukan pemeriksaan ke puskesmas, jika mengalami sakit yang serupa dengan Asiah. (banjarmasinpost.tribunnews.com)

Daftar Tunggu Haji di Indonesia Ada yang Mencapai 41 Tahun


Daftar tunggu keberangkatan haji di Indonesia ada yang mencapai 41 tahun. Hal itu terjadi di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Sementara waktu tunggu paling cepat adalah 9 tahun untuk Kabupaten Seluma, Bengkulu dan Sanggau, Kalimantan Barat.
 

Daftar tunggu haji itu dipaparkan Menteri Agama Lukman Hakim Syaefuddin saat rapat konsultasi dengan pimpinan DPR di Kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, terkait keinginan pemerintah menambah kuota haji Indonesia yang saat ini hanya mencapai 168.000 orang.

"Waktu tunggu ini bervariasi, paling cepat antrean ada di Kabupaten Seluma dan Kabupaten Sanggau, dan paling lama ada di Kabupaten Sidrap," kata Lukman dalam pemaparannya, Senin (26/9/2016).
 
Lukman menjelaskan, lamanya daftar tunggu haji di Indonesia lantaran ada renovasi Masjidil Haram pada tahun 2013 hingga sekarang. Pemerintah Arab Saudi kemudian memangkas kuota haji seluruh negara sebesar 20 persen, termasuk Indonesia.

 
"Sejak 2013 kuota haji semua negara dipotong, sehingga untuk Indonesia menjadi 168.000 orang. Sedangkan kuota petugas tidak mengalami pemotongan," ujar Lukman.


Untuk mengurangi lamanya daftar tunggu haji itu, Kemenag memberlakukan peraturan sejak tahun lalu, yaitu pendaftar berusia minimal 12 tahun. Bagi jemaah yang haji dalam kurun 10 tahun terakhir juga dilarang kembali mendaftar.
 
Kepada bank penerima Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPH) juga dilarang memberikan fasilitas kredit untuk mendaftar haji.

 
"Serta memprioritaskan bagi jemaah haji yang berstatus belum haji melakukan pelunasan BPIH, bagi jemaah yang sudah bersatus haji diberikan kesempatan bila ada sisa kuota," ungkap Lukman.


Tak hanya itu, pemerintah melalui Presiden Jokowi juga telah berkomunikasi dengan Raja Arab Saudi Salman meminta penambahan kuota 10 ribu orang untuk menjalankan rukun Islam kelima ini.

 
"Secara lisan Pemerintah Arab Saudi akan memenuhi permintaan Pemerintah Indonesia terkait penambahan 10 ribu kouta. Namun yang disampaikan Raja Salman tak kunjung dikeluarkan. Baru sebatas lisan," ujarnya.

 
Bahkan hingga pemberangkatan kloter pertama, Kemenag terus menelusuri perihal tersebut, namun tak kunjung ada titah raja (Amrul Malaky).

 
"Ke depan kalau sudah ada komitmen itu perlu ditindaklanjuti dengan pemerintah setempat," kata Lukman. (metrotvnews.com)

Minggu, 25 September 2016

Dituduh Joki Hajar Aswad, Dua Jemaah Ditangkap Lalu Masuk Penjara

Dua jemaah haji Indonesia ditangkap oleh pihak keamanan Masjidil Haram karena diduga menjadi joki Hajar Aswad. Kedua jemaah yang bernama Muhammad Rasul Daeng Naba bin Laujeng dan Abdul Rauf Nuraling Pattola bin H Nuraling ini sempat dimasukan ke penjara Shumaisy sejak Selasa (20/09) pagi dan berhasil dibebaskan pada Jumat (23/9/2016) malam lalu.

“Kedua jemaah yang tergabung dalam kloter 1 Embarkasi Makassar (UPG 11) yang tinggal di Hotel Al Sa Wi (504) di wilayah Aziziah ini berhasil dibebaskan berkat kerjasama antara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, KJRI, Maktab, dan Muassasah,” jelas Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Makkah Wagirun saat memberikan keterangan pers di Daker Makkah.

Wagirun menjelaskan kronologis penangkapan dan upaya yang dilakukan untuk membebaskan kedua jemaah haji Indonesia. Menurutnya, musibah yang dialami Muhammad Rasul (41) dan Abdul Rauf (43) terjadi pada Senin (19/09) malam. “Saat itu, keduanya akan memandu beberapa ibu-ibu, orang tua, neneknya, saudaranya, keluarga mereka untuk mencium hajar aswad,” tutur Wagirun.

Pada kesempatan pertama, Muhammad Rasul berhasil memandu sejumlah wanita untu mencium Hajar Aswad. Giliran berikutnya, Rasul akan membantu Abdul Rauf Nuraling. Namun, baru beranjak dari tempat berkumpul mereka yang berada di salah satu sudut area thawaf yang segaris dengan lampu hijau (tanda permulaan tawaf), kedua orang ini ditangkap polisi haram dan dibawa ke markas kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sementara itu, rombongan wanita yang akan dipandu mencium Hajar Aswad akhirnya kembali ke hotel sekitar jam 2 malam. Tanggal 20 September pagi, sekitar jam 08.45 WAS, perwakilan dari mereka melapor ke linjam sektor lima yang ditindaklanjuti dengan melaporkan ke Daker Makkah sekitar jam 09.00 WAS.

“Kami beserta penghubung instansi langsung meluncur ke kepolisian Haram untuk menelusuri jejak saudara kita ini ada di mana. Pada pos pertama kosong. Di pos polisi kedua, kita mendapat informasi bahwa pagi sekali mereka sudah dikirim ke penjara di Shumasy,” tutur Wagirun.

“Karena sudah di Shumaisy, maka langkah selanjutnya harus berkordinasi dengan Maktab kerena ini sudah berada di luar check point. Di situ harus ada paspor dan lainnya. Ini juga merupakan kewenangan maktab untuk menyelesaikan kasus ini,” tambahnya.

Saat itu, pihak maktab menjanjikan menjemput kedua jemaah haji tersebut di Shumaisy. Namun, sampai tanggal 22 September upaya belum membuahkan hasil.

Selain dengan pihak maktab, Tim Linjam Daker Makkah juga melakukan komunikasi dengan petugas Muassasah dan Kementerian Haji. Tanggal 22 September, tim linjam juga berkunjung ke Shumaisy untuk melakukan koordinasi dengan pejabat yang berwernang di sana. “Hanya, belum bisa membebaskan saudara kita,” ujarnya.

Upaya selanjutnya, lanjut Wagirun, tim linjam Daker Makkah pada tanggal 23 September bersurat ke Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang intinya menyampaikan laporan dan meminta bantuan penyelesaian kasus. “Kami juga meminta bantuan kepada tim KJRI yang menangani perlindungan warga negara Indonesia agar secara pararel mereka juga melakukan upaya pembebasan jemaah kita,” terangnya.

Pada tanggal yang sama, lanjut Wagirun, PPIH lalu berkirim surat kepada Kementerian Haji dan Muasasash terkait upaya pembebasan kedua jemaah haji Indonesia. “Komunikasi intens juga dilakukan oleh ketua PPIH Arab Saudi dengan pihak muasasash dan Kementerian Haji untuk pembebasan kedua sadara kita,” katanya.

Masih sebagai bagian dari upaya, Tim Linjam Daker Makkah bersama Kadaker menemui Kepala Kepolisian Haram pada 23 September untuk meminta bantuannya karena tempat kejadian perkara (TKP) ada di Masjidil Haram. “Respon dia cukup bagus. Saat itu kita tunjukan visa dua orang ini, dia merespon dengan menghubungi pihak terkait dan menjanjikan bahwa dalam waktu dekat, kalau bisa malam ini atau besok (akan dilakukan pembebasan),” jelasnya.

“Alhamdulillah, tanggal 24 September jam 02.00 dini hari, dua saudara kita dibebaskan dan diantar langsung petugas maktab 02. Alhamdulillah sekarang mereka sudah ada di antara kita,” jelas Wagirun lega.

Muhammad Rasul dan Abdul Rauf berada di Shumaisy sekitar empat hari lima malam. Wagirun mengaku bahwa peristiwa yang bersamaan dengan libur panjang di Saudi menjadikan upaya tim untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Saudi mengalami hambatan. Selain Jumat dan Sabtu yang menjadi hari libur reguler, Kamis pekan ini, tepatnya tanggal 22 September juga libur karena merupakan Hari Kemerdekaan Saudi.

Atas peristiwa ini, Wagirun mengimbau jemaah haji Indonesia untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri saat akan mencium Hajar Aswad. Menurutnya, maraknya oknum yang mencari keuntungan atau penghasilan menjadi joki mencium Hajar Aswad menjadi perhatian dan target tersendiri bagi kepolisian Haram.

“Bagi saudara kita yang mau mencium Hajar Aswad, sewajarnya saja karena yang wajib itu ibadahnya. Mencium hajar aswad hanya bagian sunah. Kalau memungkinkan ada waktu dan badan sehat dilaksanakan, kalau tidak memungkinkan jangan dipaksakan,” tandasnya.(poskotanews.com)

PPIH Sayangkan Agenda KBIH

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi Basori menyayangkan pihak Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang mengagendakan beragam program kepada jamaah namun tidak bisa berbuat apapun saat jamaah mengalami masalah.
  
Pernyataan itu disampaikan Ahmad kepada tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Mekkah, Sabtu, setelah proses pemakaman seorang jamaah yang meninggal dalam perjalanan di Jeddah tertunda selama beberapa hari.
  
"Almarhumah Armi binti Markidi asal kloter MES 08 baru bisa dimakamkan kemarin pagi (23/9) setelah wafat 18 September akibat penolakan pihak RS yang tidak dapat memberikan keterangan apapun terkait jamaah," katanya.
  
Jamaah haji asal Indonesia Armi binti Markidi asal embarkasi Medan kloter 08 meninggal dunia di Jeddah pada 18 September, namun karena dokumen-dokumennya berada di Mekkah, proses pemakamannya pun tertunda beberapa hari. Yang bersangkutan meninggal dunia saat sedang berwisata di Jeddah bersama KBIH Al Hilal, tempatnya bernaung selama proses haji.
  
Sebelumnya tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah mengimbau agar jamaah tidak meninggalkan Mekkah selama proses haji karena dokumen berada di pihak maktab.
  
Berdasarkan kronologi yang dikeluarkan oleh PPIH, jamaah asal Lubuk Pakam itu melakukan perjalanan ke Jeddan, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Makkah menggunakan bus, bersama 45 jamaah lain pada 18 September pukul 14.00 waktu Arab Saudi.
  
Rombongan menuju masjid terapung sebelum kemudian bergerak ke pusat belanja di Jeddah sebelum kembali ke Makkah untuk shalat Isya pada pukul 19.30 waktu Arab Saudi.
Dalam perjalanan pulang yang bersangkutan dilaporkan tidak enak badan dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat namun meninggal dalam perjalanan.
  
Setelah meninggal dunia, jenazah Armi dibawa ke rumah sakit swasta Amir Fawwaz di Jeddah. Namun proses pemakamannya tidak bisa langsung dilakukan karena pihak rumah sakit tak mau mengeluarkan jenazah sebelum ada keterangan terkait kematian jamaah dari pihak berwenang.(republika.co.id)