Sabtu, 03 Desember 2016

PPIU Lakukan Pelanggaran Rugikan Jamaah Haji



Kementrian Agama (Kemenag) kembali mencabut izin tiga travel sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU). Ketiga PPIU ini dianggap telah melakukan pelanggaran hingga merugikan jamaah.


Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Abdul Djamil saat menututp Sosialisasi Kebijakan Umrah di Bandung, jumat (02/12). Menurut Abdul Djamil ,tindakan tegas diberikan untuk memberikan efek jera kepada travel umrah nakal.


Ketiga travel yang dicabut izinnya sebagai PPIU adalah PT. Diva Sakinah di Makasar), PT. Hikam Sakti Perdana di jakarta), dan PT. Timur Sarana Tour & Travel di Bandung). “Ketiga travel umrah tersebut dicabut izinnya karena melakukan pelanggaraan berat, yaitu tidak memberangkatkan calon jamaah umrah, “ katanya.


Selain itu, lanjut mantan Rektor IAIN Walisongo Semarang ini, terdapat empat PPIU yang tidak diperpanjang izin operasionalnya, yaitu PT. Maulana (jakarta), PT. Sandhora Wahana Wisata (jakarta), PT. Nurmadania Nusha Wisata (jakarta), dan PT.Faliyatiaka Cholis Utama (Jawa Timur). Keempat travel umrah tersebut tidak diperpanjang izin operasionalnya, karena sampai batas waktu habis, keempatnya belum mengajukan permohonan perpanjangan izin.


Kembali bergulirnya musim umrah tahun 1438 H, Ditjen PHU berharap penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah akan berjalan lebih baik dan lebih tertib.


Untuk lebih memberikan perlindungan kepada jamaah umrah, Ditjen PHU juga telah mengambil kebijakan untuk meningkatkan jumlah jaminan penyelenggaraan (bank garansi) sebesar 100 persen . Bank garansi setiap PPIU yang sebelumnya Rp 100 juta, naik menjadi Rp 200 juta.


“Saat ini Ditjen PHU juga melakukan penataan organisasi, yaitu dengan mengembangkan direktorat  tersendiri yang mengurusi umrah dan haji khusus , “Kata Abdul Djamil.(ansornews.com)

Ketua MUI: Jamaah Haji di Madinah Kalah Jauh dari Massa Aksi 212


Ketua MUI Muhyidin Junaidi mengatakan umat Islam yang berkumpul di Lapangan Monas dan sekitarnya berjumlah lebih dari 3 juta orang. Jumlah itu belum ditambah dengan massa Aksi Super-Damai 212 di berbagai daerah di Indonesia. 


Menurutnya, jumlah itu jauh melebihi umat Islam yang berkumpul di Makkah dan Madinah saat pelaksanaan ibadah haji. Jamaah haji tahun 2016 diperkirakan adalah 1,8 juta orang.


“Di atas 3 juta. Bahwa berkumpulnya ini menurut hemat saya, jamaah di Madinah masih jauh kalah dengan umat Islam di Indonesia,” kata Muhyidin dalam acara Talk to iNews, Jumat (2/12/2016).



Muhyidin menambahkan, massa akan jauh lebih besar jika seandainya tak ada halangan dari pihak ketiga. “Kemungkinan akan jauh lebih besar,” tuntasnya. (okezone.com)


Jumat, 02 Desember 2016

Kapolri Sebut Aksi Damai 212 Mirip Ibadah Haji di Padang Arafah


Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian memaparkan kekagumannya akan Aksi Super-Damai 212 di Lapangan Monas, Jumat (02/12/2016).


Tito mengaku takjub dengan banyaknya massa yang hadir di Lapangan Monas. Bahkan, Tito menjelaskan bahwa aksi super-damai 212 mirip dengan suasana di padang Arafah saat menunaikan haji.


Subhanallah, kita merasakan betapa indahnya Islam, kita merasakan bagaimana suasana hari ini seperti suasana kita melaksanakan haji di Padang Arafah," jelas Tito yang disertai sautan takbir dari massa.


Untuk itu, Tito meminta kepada massa untuk senantiasa menjaga kesucian aksi dengan melaksanakan ibadah sebaik mungkin.


"Oleh karena itu, kita laksanakan ibadah kita dan sekaligus mendekatkan hati kita kepada junjungan kita Rasulullah SAW," papar Tito.(okezone.com)


Tugas Berat Menanti Pascaberibadah Haji


Pasca-menjalakan ibadah haji di Tanah Suci beberapa waktu lalu, para haji kini memiliki tugas berat yang harus diiemban sekembalinya di kampung halaman. Mereka dituntut untuk mempertahankan kemabruran hajinya.

Hal tersebut ditegaskan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah ketika menghadiri Pembinaan Pascahaji yang berlangsung di Gedung Puspihat Kabupaten Indramayu, Kamis (01/12). 


Menurut Anna, untuk mendapatkan predikat haji mabrur tentu sangat sulit karena banyak syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon haji. Walaupun pada akhirnya hanya Allah yang tahu dan yang akan memberikan penilaian apakah haji orang itu mabrur atau tidak.
 
“Namun seiiring usaha yang dilakukan, harapan menjadi haji mabrur tentu ada pada setiap jamaah haji karena kita semua mengetahui tidak ada ganjaran dari sebuah haji yang mabrur kaecuali syurga,” katanya dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id.


Sekemblinya dari melaksanakan ibadah haji, ujar Anna, ada tugas berat yang harus dilaksanakan oleh para haji, yaitu bagaimana menjaga kemabruran haji. Karena apa yang dilakukan seorang haji senantiasa akan menjadi perhatian masyarakat sekitarnya. Setiap tutur kata serta tindakannya senantiasa akan selalu dihubung-hubungkan dengan titel haji yang ada di depan namanya.

 
“Untuk itu, saya menghimbau kepada yang telah melaksanakan ibadah haji, jadilah tauladan yang baik bagi keluarga maupun masyarkat dimana bapa dan ibu tinggal. Kemudian jangan kaget jika pada setiap kegiatan yang dilaksanakan di tempatnya masing-masing banyak orang yang menginginkan agar kita menjadi pelaksana kegiatan terutama kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan,” ujar Anna.

 
Pada kesempatan itu juga dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), ketua MUI, serta ratusan jamaan haji asal Kabupaten Indramayu.(republika.co.id)

Haji Diimbau Bergabung dalam IPHI

Ketua IPHI Kabupaten Magelang, Asfuri minta semua jamaah haji bergabung dalam Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), untuk bersama-sama menjaga kemabruran haji.

‘’Mencari kemabruran itu penting. Tetapi yang jauh lebih penting, menjaga kemabruran tersebut. Karena sulit,’’ katanya, kemarin, dalam penerimaan jamaah haji 2016 di GOR Gemilang Kota Mungkid.

Menurut dia, untuk menjaga kemabruran haji perlu dibina, dirawat dan diasah. Cara paling tepat adalah lewat IPHI. Organisasi ini sudah ada di tingkat desa. Untuk menjadi anggota bisa menghubungi pengurus terdekat. ”Kami minta pengurus IPHI di ranting/cabang proaktif, datang bersilaturahmi ke jamaah atau haji baru dan diajak segera bergabungdengan IPHI,” katanya.

Tergantung Niat

IPHI memiliki tujuan mulia. Yaitu, melestarikan syiar Islam, amar makruf nahi mungkar, untuk meningkatkan kualitas ubudiyah atau iman dan takwa. Semua itu dalam bingkai mempertahankan haji mabrur. Karena kemabruran haji tergantung ketulusan niat, biaya yang digunakan dan cara dalam pelaksanaan haji. Setelah menyandang status haji perilakunya bertambah baik atau tidak. ”Namun, kami yakin khusus jamaah haji asal Kabupaten Magelang semua mabrur,” katanya.

Dia menyebut tiga kategori saat menunaikan ibadah haji. Yakni mardud karena sesuatu hal ibadah hajinya ditolak. Kedua makbul yaitu amal ibadah ketika menunaikan ibadah haji, diterima. Sedangkan mabrur artinya semua amal ibadah hajinya diterima dan tambah kebaikannya. Namun kebanyakan orang awam sering memaknai makbul itu adalah ibadah haji dan amalnya diterima, tetapi orangnya tidak kembali.(suaramerdeka.com)