Senin, 16 Januari 2017

Kemenkes Tetap akan 'Jemput Bola' di Haji 2017


Melihat 2016 lalu dimana kinerja tim kesehatan bekerja cukup baik, Kementerian Kesehatan akan tetap 'jemput bola' dalam pelaksanaan haji 2017 ini. Rencananya, akan ada tambahan dokter di dalam satu kloter.

Dalam Rapat Kerja Evaluasi Hani 1437 H/2016 bersama Komisi VIII di Kompleks DPR RI, Senin (16/1), Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menjelaskan, penyebab meninggal jamaah di atas usia 60 tahun, paling besar karena penyakit kardiovaskular sebesar 53 persen, pernafasan 27 persen, dan lainnya 20 persen. Maka, penanganan penyakit kardiovaskular dan pernafasan perlu diperkuat sehingga syarat istithoah bisa dipenuhi.


"Pada 2017, tantangan Kemenkes masih pada jamaah haji berisiko tinggi," kata Nila. Tahun lalu, jamaah di atas usia 60 tahun dimana lebih dari dua pertiganya adalah jamaah yang berada pada kategori risiko tinggi.

 
Dikatakan Nila, dengan peningkatan kuota, maka jumlah jamaah per kloter bertambah. Karenanya, Kemenkes tetap 'menjemput bola' dengan kegiatan prioritas ke depan antara lain haji sehat. Tentunya, dengan meningkatkan pemahaman kesehatan calon jamaah sedini mungkin.


"Dua tahun sebelum berangkat, penanganan masalah kesehatan calon jamaah sudah dilakukan," kata Nila. Pun pembinaan calon jamaah haji dan peningkatan kesehatan jamaah haji agar memenuhi syarat istithoah. Sehingga syarat istithoah tidak hanya mampu secara finansial, tapi juga sehat.

 
Sementara itu, di Tanah Air, distribusi vaksin jamaah ditargetkan bisa sampai ke provinsi pada April 2017. Dari provinsi, baru ke layanan kesehatan. Jumlahnya mengacu pada jumlah jamaah haji tahun lalu, cadangan, plus kuota tambahan tahun ini.

 
Juga optimalisasi peran Puskesmas melakukan pendekatan keluarga. Bila diketahui di Puskesmas ada keluarga pasien yang akan berhaji, mereka diminta ikut menjaga kesehatan anggota keluarga mereka yang akan berhaji. "Di peta jalan Kemenkes, ada Germas yang intinya mengatur pola hidup lebih sehat seperti memperbanyak makan sayur dan buah serta memperbanyak kegiatan fisik," kata Nila.

 
Di Saudi, petugas kesehatan juga akan jemput bola. Akan ada tim gerak cepat untuk penanganan jamaah haji sakit. Petugas pasti ditambah karena kuota haji bertambah 52.200. Tahun lalu, ada satu dokter dan dua para medis untuk satu kloter berisi 360-380 orang jamaah. Sekarang, per satu kloter sekitar 450 orang. Hitungan kasarnya, kata Nila, akan jadi dua dokter dan dua perawat per kloter. (republika.co.id)


DPR-Pemerintah Gelar Rapat Evaluasi Haji


Dewan Perwakilan Rakyat dengan pemerintah menggelar rapat evaluasi penyelenggaraan haji 2016 di area Gedung Parlemen, Jakarta, Senin.

Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam menyelenggarakan ibadah haji.

 
Dia mengatakan perlu pertanggungjawaban pemerintah dalam pelaksanaan tersebut dari banyak aspek seperti pembinaan jamaah haji, penyediaan transportasi, kesehatan, akomodasi, keamanan, lobi ke otoritas Arab Saudi dan lainnya.


Hadir dalam rapat evaluasi tersebut seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dan Sekjen Kementerian Perhubungan Sugihardjo.
 
Lukman mengatakan penyelenggaraan ibadah haji 2016 menetapkan kuota sebanyak 168.800 dengan rincian jamaah haji reguler 155.200, jamaah haji khusus 13.600 dan petugas sebanyak 3.250 orang.

 
Serapan anggaran haji tahun 2016, kata dia, cukup besar mencapai 98,21 persen atau terserap Rp9.151.593.650.378 dan sisa anggaran operasional Rp 166.725.101.770.


Anggota Komisi VIII Achmad Mustaqim mempertanyakan secara rinci penyerapan anggaran tersebut. Alasannya, efisiensi anggaran dapat dilakukan di banyak sektor sehingga dapat mengefisienkan sebesar Rp19 miliar. (antaranews.com)

Jumat, 13 Januari 2017

Daftar Tunggu Haji Yogya Lebih Cepat 6 Tahun



Daftar tunggu jamaah calon haji dari Yogyakarta yang akan diberangkatkan ke tanah suci, maju atau lebih cepat enam tahun menjadi tahun 2032. Sebelumnya, saat pembatasan kuota jamaah haji akibat renovasi Masjidil Haram, daftar tunggu di Yogyakarta sampai tahun 2038. 

"Dengan kembali normalnya kuota haji, untuk DIY termasuk Kota Yogyakarta insya Allah daftar tunggu sampai 2032," kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Sigit Warsito, Jumat (13/1/2017).

Dia menjelaskan, saat pengurangan kuota jamaah haji nasional pada kurun waktu 2013-2016, kuota di DIY sekitar 2.455 jamaah calon haji. Jika nanti kuota kembali normal, maka akan kembali ke jumlah 3.068 jamaah.

Khusus DIY, lanjut Sigit, kuota yang dipakai adalah kuota provinsi, sehingga jadwal keberangkatan nanti bergantung pada nomor pendaftaran jamaah. "Ketika kuota dikurangi maksimal 80% dari 2013-2016, Kota Yogyakarta hanya memberangkatkan 388 orang jamaah tiap tahun. Setelah normal, pastinya jamaah yang diberangkatkan juga bertambah," jelas Sigit.( Sindonews.com)

Kuota Haji Bertambah, Kemenag Fokus Lakukan 3 Persiapan Ini


Presiden Jokowi mengumumkan kuota jemaah haji Indonesia 2017 naik 52 ribu, sehingga total menjadi 221 ribu jemaah. Presiden juga mengatakan pengumuman kuota ini menandai dimulainya persiapan penyelenggaraan ibadah haji.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Abdul Djamil menegaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan berbagai persiapan penyelenggaran ibadah haji 2017. Persiapan itu bahkan sudah dilakukan sejak akhir tahun 2016.

Persiapan ini akan fokus pada tiga hal. Pertama pembahasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dengan DPR RI. Setiap tahun, BPIH dibahas bersama dengan Komisi VIII DPR. Hasil pembahasan antara kedua belah pihak ini kemudian dibawa ke Presiden untuk diterbitkan Keputusan Presiden tentang BPIH.

"Fokus kedua terkait persiapan kegiatan dalam negeri yang meliputi pelunasan, konsolidasi dengan pihak terkait, persiapan embarkasi, manasik haji, dan lainnya," ujar Abdul Djamil di Jakarta, Kamis (12/1/2017).

Selain persiapan dalam negeri, jajarannya juga akan fokus pada persiapan layanan jemaah haji di Arab Saudi. "Fokus ketiga adalah kordinasi dengan instansi di Arab Saudi menyangkut akomodasi, transportasi, layanan armina, dan layanan lainnya," kata dia, yang dikutip dari kemenag.go.id

Mantan Rektor IAIN Walisongo Semarang ini berkomitmen akan terus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji. Menurut dia, seiring bertambahnya kuota jemaah haji, persiapan yang harus dilakukan juga perlu ditambah. Salah satunya terkait petugas haji.

Abdul Djamil mengaku akan memperhatikan persoalan petugas dan akan memberikan persiapan khusus agar jemaah haji Indonesia bisa dilayani dengan baik.

"Akan ada persiapan khusus untuk konsolidasi petugas yang akan melayani jemaah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah peningkatan profesionalitas dan dedikasi mereka dalam memberikan pelayanan kepada jemaah," terang Djamil.

Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) 2016 naik 1,16 point. Kalau pada 2015 tingkat kepuasan jemaah sebesar 82,67, tahun ini naik menjadi 83,83. Ada sembilan kategori layanan yang disurvei BPS kepada jemaah haji dan semuanya masuk dalam kategori memuaskan.

Untuk layanan petugas kloter naik 0,91 poin dibanding hasil survei 2015 menjadi 86,4. Demikian juga layanan petugas nonkloter, naik 0,26 poin menjadi 84,27.

Meski demikian, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan masih ada sebagian jemaah yang merasa sulit mengenali petugas nonkloter. "Mereka menyarankan agar atribut para petugas nonkloter lebih diperjelas agar memudahkan mereka dalam meminta bantuan para petugas tersebut," ujar Suhariyanto.(liputan6.com)

Rabu, 11 Januari 2017

Jokowi: Kuota Haji 2017 Naik 52.200 Orang




Indonesia mendapatkan jatah kuota haji sebesar 221.000 orang pada 2017. Jumlah ini naik dari tahun-tahun sebelumnya.


Kenaikan kuota haji ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo, didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

"Indonesia mengalami kenaikan sebesar 52.200," kata Jokowi dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Jokowi mengatakan, kenaikan kuota haji ini tak terlepas dari upaya pemerintah dalam melobi Arab Saudi.

Jokowi sudah membicarakan mengenai kenaikan kuota haji bagi Indonesia saat berkunjung ke Arab Saudi pada September 2015.

Pembicaraan lanjutan terjadi saat Jokowi dan Deputi Kerajaan Arab Saudi bertemu di Guangzhou, China, pada September 2016.

Dari dua pembicaraan itu, Jokowi meminta Menag dan Menlu untuk melakukan pembicaraan tindak lanjut.

Lalu, dari proses pembahasan tindak lanjut itu, Pemerintah Arab Saudi telah memutuskan untuk mengembalikan kuota normal haji bagi Indonesia dari 168.800 orang menjadi 211.000 orang untuk tahun 2017.

Sebagai catatan, sejak 2013, kuota jemaah haji Indonesia dan negara lainnya mengalami penurunan 20 persen karena perluasan fasilitas di Masjidil Haram, Mekkah.

Selain pengembalian kuota sebesar 211.000 jemaah, Pemerintah Arab Saudi juga menyetujui permintaan tambahan kuota bagi Indonesia dan memutuskan tambahan 10.000.

"Dengan demikian, kuota haji untuk Indonesia tahun 2017 dari 168.800 menjadi 221.000," ucap Jokowi.

Jokowi mengatakan, Indonesia menyampaikan perhargaan yang tinggi terhadap Pemerintah Arab Saudi yang telah memberikan tambahan kuota haji kepada Indonesia.
Penghargaan dan apresiasi juga, lanjut Jokowi, disampaikan atas upaya Pemerintah Arab Saudi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan jemaah haji, termasuk jemaah haji dari Indonesia.

"Dengan sudah adanya keputusan ini, persiapan haji 2017 sudah dapat dilakukan sejak dini," ucap Jokowi.


Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengaku mendapatkan informasi mengenai rencana kunjungan Raja Arab Saudi pada bulan Maret 2017. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia menyambut baik rencana tersebut.(kompas.com)
 
"