Sabtu, 02 September 2017

Raja Salman Pantau Langsung Jemaah Haji di Mekah


Pada puncak musim haji, Raja Arab Saudi menuju Mina, Mekah untuk mengawasi pelayanan dan fasilitas terbaik serta memastikan kenyamanan jemaah di sana.


Seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (1/9/2017), Raja Salman bin Abdulaziz tiba di Mina pada Kamis 31 Agustus 2017 malam waktu setempat. Sekitar dua juta jemaah berkumpul di Mina untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad melaksanakan ibadah haji.


Jemaah haji melakukan ibadah wukuf di Padang Arafah hingga matahari terbenam pada hari kesembilan Hijriah bulan Dzulhijah.


Padang Arafah adalah tempat di mana Nabi Muhammad memberikan salah satu khutbah terakhirnya yang terkenal tentang Islam dan Allah.


Kurban


Saudi Press Agency (SPA) menyebut Raja Salman si Penjaga Dua Masjid Suci tiba menjelang Idul Adha di Istana Mina bersama delegasi. Mereka diterima oleh Pangeran Miteb Bin Abdullah, menteri Garda Nasional, Pangeran Muhammad Bin Abdulrahman Bin Abdullah, wakil gubernur Provinsi Riyadh, Pangeran Abdulaziz Bin Saud Bin Naif, menteri dalam negeri dan ketua Komite Haji Tertinggi, beberapa pangeran dan pejabat senior sipil dan militer.


Penjaga Dua Masjid Suci itu sebelumnya telah menanggung biaya hewan kurban (Hady) untuk 5.000 jemaah haji dalam program undangan raja atau King’s Guests Program for Haj and Umrah tahun ini.


"Tawaran Raja untuk kurban itu mencakup semua jemaah yang berada di bawah program King’s Guests Program for Haj and Umrah tahun ini, termasuk untuk anggota keluarga para martir Palestina juga tentara martir Mesir dan polisi serta saudara-saudara tentara Sudan yang menjadi korban syahid atau terluka saat operasi Decisive Storm and Restoration of Hope military di Yaman. Selain tamu dari lebih 80 negara," tutur Sekretaris Jenderal Program Abdullah Al-Madalj seperti dikutip dari SPA.


Al-Madalj mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan yang sangat besar dalam jumlah jemaah haji undangan raja tahun ini, mencapai 5.000 dari tahun lalu hanya 2.400.

Media Arab Soroti Jemaah Haji Indonesia


Calon jemaah haji berusia 104 tahun dari Indonesia mencuri perhatian media Arab. Ia adalah Bay Meriah.

Al Arabiya yang dikutip 28 Agustus 2017 menuliskan bahwa Nenek Bay tiba di Jeddah, Arab Saudi pada Sabtu 26 Agustus malam waktu setempat untuk melakukan ibadah haji. Laman tersebut mengulas kedatangannya melalui artikel berjudul '104-year-old Indonesian pilgrim arrives in Saudi Arabia for Hajj'.

Nenek asal Lombok ini menempuh perjalanan udara sekitar 12 jam sebelum mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAA) Jeddah.

Meski duduk di atas kursi roda, jemaah haji tertua asal Indonesia ini tampak sehat. Selain disambut Konjen RI Jeddah beserta pejabat terkait, Nenek Bay juga ternyata telah dinanti beberapa media Arab Saudi.

Bahkan Nenek Bay menjadi selebritas dadakan karena menjadi pusat perhatian media lokal.
Dalam tulisan bertajuk 'Oldest Hajj pilgrim, 104, arrives from Indonesia Arab News', media Arab Saudi lain, Arab News, memberitakan sang nenek.

"Dia adalah yang tertua di antara 221.000 jemaah haji dari Indonesia tahun ini," tulis media tersebut.

Sementara itu, Gulf News memberitakan perihal tersebut dalam tulisan singkat yang diberi tajuk '104-year-old oldest Indonesian pilgrim this year'.

Sedangkan '104-year-old Indonesian woman arrives in Jeddah to perform Haj' menjadi pilihan judul untuk Times of Oman membahas Nenek Bay menunaikan ibadah haji. Situs tersebut menuliskan bahwa jemaah tertua dari Indonesia itu mendapat banyak sambutan saat tiba di sana.

"Arab Saudi dengan hangat menyambut Ibu Mariah. Haji merupakan sorotan rohani dalam kehidupan setiap Muslim. Pada usia 104 tahun, sungguh luar biasa bagi Ibu Mariah berada di sini. Kami berharap dia baik-baik saja," tulis Times of Oman mengutip juru bicara Center for International Communication. (liputan6.com)


Jamaah Haji Indonesia Bertumbangan pada Jumrah Aqabah


Jamaah haji dari berbagai dunia melakukan lempar jumrah Aqabah sejak pagi 10 Dzulhijjah hingga malam hari atau Jumat (1/9). Tak sedikit jamaah haji Indonesia, bahkan sejumlah negara, banyak yang bertumbangan karena kelelahan saat melakukan prosesi lempar jumrah Aqabah ini. 


Berdasarkan pantaun Republika.co.id, suasana lokasi jamarat, sejak sore 10 Zulhijjah, sudah dipenuhi lautan masa. Jumlah tersebut semakin bertambang menjelang malam. Kepadatan mulai memuncak justru mulai magrhib hingga lewat tengah malam. Sebagian jamaah ada yang memutuskan mabil di sekitar lokasi jamarat di pelataran dan bahkan jalanan utama untuk melaksanakan mabit tanggal 11 Dzulhijjah. 

Pada pelaksanaan lempar Aqabah, Republika.co.id, mendapati puluhan jamaah haji yang kelelahan. Beberapa di antaranya harus tertinggal di lantai tiga jamarat karena keterbatasan petugas. Siti Rohima Tukiman, misalnya, jamaah haji asal Embarkasi Medan (MES 22) ini pingsan karena kelelahan dan tertinggal rombongan. Dia berada di lantai tiga hingga beberapa jam sebelum akhirnya Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) membawanya ke klinik Saudi terdekat yang berada di lantai tiga jamarat. 

Berdasarkan pantauan Republika.co.id pula, puluhan jamaah haji terpaksa dievakuasi di pelataran jamarat dengan bantuan medis seadanya. Pihak Keamanan Saudi memberlakukan larangan kendaraan apapun masuk dalam kawasan jamarat, tak terkecuali ambulanse KKHI. Ini menjadi faktor rumitnya proses evakuasi jamaah.  


Tak hanya jamaah yang bertumbangan, tetapi banyak pula jamaah yang tersesat dan tertinggal rombongan. Jutaan jamaah haji berkumpul di lokasi jamarat. Jufriadi Amin misalnya, jamaah asal Kabupaten Beirune ini, tertinggal rombongannya di kawasan Jamarat. Dia bersama lima teman rombongannya sempat belum melempar jumrah, hingga akhirnya ditemukan petugas. “Kami pun tidak tahu jalan ke maktab,” kata dia kepada wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah Arab Saudi. Jufriadi akhirnya diantar petugas pulang menuju tendanya.  (Republika.co.id)  




Selasa, 29 Agustus 2017

Pentingnya Profesionalisme Manajemen Haji

Seiring meningkatnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan serta "kesalehan beragama" umat Islam di Indonesia, meningkat pula gairah dan jumlah peserta pendaftar haji setiap tahunnya.

Membengkaknya jumlah pendaftar haji, menyebabkan semakin panjangnya antrean untuk mendapatkan kesempatan berangkat haji ke Tanah Suci Mekah. Bahkan di sejumlah kota besar, antrean itu bisa mencapai 10 hingga 30 tahun.

Meskipun mereka sudah lunas membayar seluruh biaya naik haji, tidak secara otomatis mereka bisa berangkat secepatnya. Karena adanya keterbatasan kuota jemaah haji di setiap negara.

Mulai 2017 ini, kuota haji Indonesia bertambah dari 168.000 menjadi 221.000 jamaah. Peningkatan jumlah kuota itu didapat setelah Kerajaan Arab Saudi mengembalikan "kuota normal" Indonesia sebelum 2013 sebesar 211.000 dan menambah 10.000 sesuai permintaan Pemerintah Indonesia.

Bisa dibayangkan jatah kuota 221.000 jelas jauh dari cukup untuk ukuran Indonesia yang pada 2016 berpenduduk lebih dari 257 juta jiwa. Apalagi karakter masyarakat Muslim Indonesia, sejak zaman dahulu kala (hingga kini), tergolong masyarakat yang "gemar berhaji".

Pada zaman Belanda dulu, pemerintah kolonial sempat dibuat kerepotan karena besarnya minat umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, sementara ibadah satu ini, oleh Belanda, dipandang membahayakan keamanan dan otoritas politik karena berpotensi bisa mengimpor ideologi Pan-Islam yang anti-kolonialisme (lihat artikel Anthony Reid dalam Nineteenth Century Pan-Islam in Indonesia and Malaysia).

Oleh Pemerintah Belanda, "Haji" (selain ulama) adalah aktor yang dianggap berbahaya, karena bisa mempengaruhi masyarakat untuk melawan dan memberontak terhadap mereka (simak sejumlah karya almarhum sejarawan Sartono Kartodirdjo seperti Protest Movements in Rural Java dan Peasants Revolt in Banten in 1888).

Meskipun dipersulit perizinan haji oleh Belanda dan ditambah perjalanan ke Mekah yang mahaberat, membutuhkan waktu sekitar 6 bulan perjalanan lewat laut dengan kapal layar, dan berisiko kematian karena serangan penyakit kolera, kelaparan, atau dibegal di jalan oleh kaum perompak dan perampok, antusiasme umat Islam Nusantara untuk berhaji tak surut.

Pada akhir abad ke-19, bahkan konon jumlah jemaah haji dari Nusantara sempat memecahkan rekor yang terbanyak di Mekah.

Jika dulu yang sangat sulit saja, kaum Muslim begitu semangat berhaji, apalagi sekarang ketika semua serba mudah dan cepat. Perjalanan ke Mekah kini cuma ditempuh sekitar 9 jam menggunakan pesawat terbang yang nyaman, tidak perlu berbulan-bulan dan terapung-apung di laut dan samudera.
***

Tetapi apa boleh buat, meskipun minat umat Islam untuk berhaji begitu besar dan membara, haji harus dibatasi. Karena area Mekah, khususnya kawasan untuk berhaji juga terbatas.

Jika setiap negara tidak dibatasi jumlah pendaftar haji, maka Mekah tidak bisa menampung jemaah haji. Jika dipaksakan, justru bisa berdampak negatif bagi keselamatan umat Islam. Maka, sistem kuota sudah merupakan jalan terbaik untuk mengatur masalah haji supaya lebih tertib dan nyaman.
Sekarang tinggal bagaimana setiap negara mengelola mekanisme haji ini dengan baik dan bijak agar semua (atau minimal sebagian besar umat Islam) bisa berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Salah satu cara terbaik adalah dengan membatasi haji. Misalnya dengan melarang orang yang sudah berhaji untuk menunaikan haji lagi atau minimal menunda sekian tahun ke depan.

Di Arab Saudi misalnya, pemerintah membuat peraturan warga yang sudah berhaji tidak boleh berhaji lagi selama 5 tahun ke depan (kecuali jika mereka mendampingi istri atau anak perempuan yang merupakan muhrim).

Identitas penduduk orang yang sudah berhaji akan terdeteksi di sistem. Misalnya, saya tidak bisa mendaftar haji lagi (yang dilakukan secara online) dalam lima tahun karena kartu identitas saya sudah terdeteksi pernah berhaji dua tahun lalu. Pemerintah Malaysia konon juga melarang umat Islam untuk bolak-balik berhaji.

Semua itu dilakukan untuk memberi kesempatan kepada mereka yang belum berhaji. Panjangnya daftar antrean dan lamanya daftar tunggu jemaah calon haji di Indonesia itu, lantaran banyak orang yang sudah berhaji kemudian ikut mendaftar haji lagi untuk kesekian kalinya.

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini, Kementerian Agama, memang pernah mengeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 29 Tahun 2015, yang merupakan revisi atas Peraturan Menteri Agama No. 14 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler.

Dalam PMA Pasal 3 ayat 4 disebutkan, jemaah haji yang pernah menunaikan ibadah haji dapat melakukan pendaftaran haji setelah 10 tahun sejak menunaikan ibadah haji terakhir. Ketentuan ini tidak berlaku untuk jemaah haji yang merangkap sebagai pembimbing haji.

Tapi sayang, peraturan ini masih belum maksimal dijalankan atau bahkan realitasnya tidak bunyi sama sekali di lapangan. Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Agama) perlu tegas mengatur dan mengimplementasikan soal pembatasan haji untuk memberi peluang atau memprioritaskan kepada mereka yang belum pernah menunaikan ibadah haji.

Kasihan mereka yang sudah menunggu puluhan tahun untuk berhaji, terganjal dan tertunda terus hanya karena banyaknya umat Islam yang sudah berhaji ikut mengantre lagi.

Lagi pula, untuk apa haji berkali-kali? Nabi Muhammad SAW sendiri hanya menunaikan ibadah haji sekali dalam hidupnya, yaitu pada tahun 10 H. Tiga bulan kemudian beliau wafat sehingga haji beliau disebut haji wida atau haji perpisahan.

Jika haji adalah ibadah yang sangat fundamental dalam Islam, beliau tentu tidak menunaikannya sekali saja. Kenyataannya tidak demikian. Itu artinya ibadah haji, bagi beliau, bukan ibadah yang "penting-penting amat". Haji memang diwajibkan hanya bagi umat Islam yang sudah mampu (secara fisik dan finansial). Itupun sekali seumur hidup.

Menurut almarhum Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub, yang juga mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, ibadah haji (juga umrAh) tergolong ibadah qashiroh atau ibadah individual, dengan manfaatnya hanya dirasakan oleh individu atau pelaku yang bersangkutan.

Sementara Islam, menurut beliau, lebih menekankan pada ibadah muta'addiyah" atau "ibadah sosial", yaitu ibadah di mana manfaatnya bisa dinikmati oleh dirinya dan orang lain.

Contoh jenis perbuatan yang masuk kategori ibadah muta'addiyah adalah menyantuni fakir-miskin, menyayangi anak yatim, pengentasan kemiskinan, pemberian beasiswa pendidikan, pemeliharaan alam-lingkungan, dan sebagainya.

Islam memang agama antroprosentris, dengan manusia yang menjadi pusat perhatian utama. Karena itu ayat-ayat Alquran, Hadis, dan tauladan Nabi Muhammad didominasi atau bertaburan dengan hal ihwal yang berkaitan dengan masalah sosial kemanusiaan dan kemasyarakatan, bukan ritual-ritual individual seperti haji. Wallahu'alam.(liputan6.com)

Senin, 21 Agustus 2017

Masya Allah, Komunitas Ini Bersepeda dari Inggris untuk Haji

Patut diapresiasi, satu rombongan pria yang terdiri dari sembilan orang asal Inggris rela menempuh jarak 3.000 kilometer menggunakan sepeda untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah, Arab Saudi.

Perjalanan yang ditempuh selama enam minggu itu melintasi sejumlah negara, antara lain Prancis, Swiss, Itaia, Yunani, dan Mesir.

Menurut salah seorang pesepeda, sebagaimana dikutip dari kantor berita Arab Saudi, SPA, perjalanan ribuan kilometer ini merupakan usaha mengampanyekan Islam sebagai agama perdamaian dan toleransi di sepanjang negara yang mereka lewati.

Sabtu (10/8/2017), rombongan pesepeda ini tiba di Madinah dan siap menunaikan berbagai tahapan ibadah haji. 

Mereka menamai kegiatan ini dengan "Hajj Ride"."Hajj Ride adalah perjalanan bersepeda pertama untuk kegiatan amal, dengan tujuan akhir menunaikan ibadah fisik paling menantang dalam lima rukun Islam, yakni haji," bunyi pernyataan dalam situs komunitas ini seperti dilansir Al Arabiya.
Komunitas pesepeda tersebut berharap melalui perjalanan ini bisa menghimpun 1 juta pound sterling untuk membantu para pengungsi Suriah melalui lembaga amal Human Aid UK.

Masyarakat dapat mendonasikan uang mereka lewat Hajj Ride untuk kemudian digunakan bagi kebutuhan layanan darurat di Suriah. Human Aid bersama beberapa organisasi di Inggris dan Malaysia telah bekerja sama dan sejak April lalu mereka mengirim 80-85 ambulans ke Suriah.

Dana yang digalang Hajj Ride penting untuk melengkapi ambulans-ambulan tersebut, termasuk peralatan-peralatan yang dibutuhkan.

Pendiri Hajj Ride, Abdul Wahid, mengaku telah mengonsep proyek ini ketika dirinya menjadi mualaf 11 tahun yang lalu

"Orang bilang 'kamu mesti mengubah semua tentang dirimu saat kamu menjadi Muslim'. Saya punya banyak waktu untuk memikirkan bagaimana aku bisa menggabungkan (pengalaman) hidupku. Saya cinta bersepeda dan saya ingin pergi ke haji, jadi mengapa kami tidak kembali ke cara lama untuk melakukan perjalanan?" kata Wahid. (arah.com)